SANG FILOSOF KEPUSTAKAWANAN
Blasius Sudarsono
Mengawali karir
sebagai staf urusan servis teknis, memberi keuntungan bagi Pak Dar karena
menjadi orang yang pertama bersentuhan dengan teknologi maju dan mahal pada
saat itu; komputer. Semua hal mengenai komputer dipelajari secara otodidak.
Begitu juga dengan kepustakawanan yang ia pelajari dengan cara “mendengar”.
Berkat ketekunannya, dalam waktu lima tahun, datang tawaran untuk melanjutkan
pendidikan pascasarjana ilmu perpustakaan di Amerika dengan skema beasiswa.
Sepulang dari pendidikan, Pak Dar mendapat jabatan baru menjadi Kepala Urusan
Servis Teknis dan menjadi pengajar di program sarjana dan pascasarjana Ilmu
Perpustakaan Universitas Indonesia. PDII-LIPI menyelenggarakan Kuliah Umum
Bersama Blasius Sudarsono sejak Juli 2011 dengan tema-tema fundamental yang
beragam dan bisa diikuti secara gratis oleh para pustakawan maupun pemerhati
kepustakawanan. Blasius Sudarsono adalah tokoh pustakawan yang mempunyai
padangan baru mengenai kepustakawanan di Indonesia, beliau menggunakan
pendekatan melalui perspektif filsafat kepustakawanan, yang belum pernah ada di
Indonesia. Universitas yang mempunyai jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi
seperti di UI, UGM, UNPAD, UNAIR, UWK, UB, UIN, YARSI, dll, baru di UNPAD yang
ada mata kuliah filsafat kepustakwanan. Basius Sudarsono adalah cikal bakal
pengajar di Indonesia.Kontribusi
pemikiran Blasius Sudarsono untuk perpustakaan dan pustakawan masa kini
adalah filsafat kepustakawanan.
Pertanyaan tetang hakikat kepustakawanan sampai kini masih setia menjadi pendamping perjalan hidup seorang tokoh dan sekaligus pemerhati pustakawan Indonesia. Blasius Sudarsono namanya, beliau sangat terobsesi untuk menemukan rumus dasar yang dapat digunakan untuk menerangkan semua fenomena tentang perpustakaan, termasuk semua hal yang terkait di dalamnya. Mungkin saja ia tidak akan berhasil menemukan hal itu. Namun ia berharap ada sejawat lain, yang kelak akan berhasil menemukan hakikat atau teori dasar kepustakawanan Indonesia. Kepustakawanan Indoenesia menurut ia dimaksudkan sebagai ilmu perpustakaan dan seni menerapkanya di Indonesia. Bagi Pak Dar. Harus ada bedanya anatara Library Science yang mungkin bersifat universal dan Indonesian Librarianship yang harus berakar dan bercirikan khas Indonesia. Ia memahami, jika banyak sejawat pustakawan Indonesia yang tidak setuju denganya. Filsafat kepustakawanan Driyarkara yang dipakai oleh Blasisus Sudarsono dalam mencari makna kepustakawanan. Driyarkara membedakan antara filsafat sebagai ilmu (yang tidak dibahas dalam tulisan ini), dan filsafat dalam arti yang lebih luas yaitu dalam arti: usaha mencari jawab atas berbagai pertanyaan hidup, menanyakan dan mempersoalkan segala sesuatu. Dikatakan pula bahwa filsafat adalah pernyataan/penjelmaan dari sesuatu yang hidup di dalam hati setiap orang. Maka walaupun tidak setiap orang dapat menjadi ahli filsafat, namun yang dibicarakan atau dipersoalkan dalam filsafat itu memang berarti bagi kita semua. Pustakawan adalah orang (manusia). Maka jika kita memakai kalimat Driyarkara dengan mengganti kata orang dengan kata pustakawan dan sedikit memodifikasikannya, maka akan diperloleh kalimat berikut: Filsafat kepustakawanan adalah pernyataan/penjelmaan dari sesuatu yang hidup di dalam hati setiap pustakawan. Maka walaupun tidak setiap pustakawan dapat menjadi ahli filsafat, namun yang dibicarakan atau dipersoalkan dalam filsafat kepustakawanan itu memang berarti bagi semua pustakawan.
Pemikiran Blasius Sudarsono di atas, dapat disimpulkan bahwa beliau menekankan pada aspek falsafah humanisme dengan filsafat Driyarkara yang di dalamnya lebih menfokuskan pada sisi kemanusianya, artinya pada diri seorang pustakawan harus terdapat keilmuan yang menjadi cikal-bakal bagi pustakawan itu sendiri untuk lebih mengenal hakikat pustakawan dengan menumbuh kembangkan kepustakawananya dikarenakan hal tersebut merupakan akar yang ada pada diri seorang yang menyatakan dirinya sebagai seorang pustakawan dengan tumbuh sifat kepustakawanan tersebut, diharapkan pustakawan dapat bekerja secara ideal dan profesional dalam melayani dan menyediakan informasi kepada pemustaka.
Blasius
Sudarsono lahir di Solo, 02 Februari 1948; umur 65 tahun, beliau
tumbuh di lingkungan pendidik karena orangtuanya adalah guru sekolah dasar. Pak
Dar sewaktu kecil gemar mengutak-atik barang elektronika. Bahkan pelajaran ilmu
pengetahuan alam untuk anak SMP sudah ia pelajari sewaktu kelas lima SD. Tidak
heran apabila ia terobsesi menjadi seorang ilmuwan. Ketika lulus SMA, ia ingin
belajar elektro arus lemah. Tapi karena orangtuanya menginginkannya menjadi
arsitek, dicobalah mendaftar di jurusan elektro dan arsitektur ITB. Hanya
diterima di jurusan elektro, ia tidak memanfaatkannya. Orangtuanya kemudian
ingin memasukkannya ke sekolah elektronika milik Angkatan Laut. Tapi lantaran
tak ingin menjadi tentara, tawaran inipun ditampiknya. Akhirnya kuliah di
jurusan fisika murni UGM menjadi pilihannya hingga tingkat sarjana muda. Karena
terlalu lama menunggu dibukanya program sarjana penuh, Pak Dar memilih bekerja
di perpustakaan LIPI.
Pertanyaan tetang hakikat kepustakawanan sampai kini masih setia menjadi pendamping perjalan hidup seorang tokoh dan sekaligus pemerhati pustakawan Indonesia. Blasius Sudarsono namanya, beliau sangat terobsesi untuk menemukan rumus dasar yang dapat digunakan untuk menerangkan semua fenomena tentang perpustakaan, termasuk semua hal yang terkait di dalamnya. Mungkin saja ia tidak akan berhasil menemukan hal itu. Namun ia berharap ada sejawat lain, yang kelak akan berhasil menemukan hakikat atau teori dasar kepustakawanan Indonesia. Kepustakawanan Indoenesia menurut ia dimaksudkan sebagai ilmu perpustakaan dan seni menerapkanya di Indonesia. Bagi Pak Dar. Harus ada bedanya anatara Library Science yang mungkin bersifat universal dan Indonesian Librarianship yang harus berakar dan bercirikan khas Indonesia. Ia memahami, jika banyak sejawat pustakawan Indonesia yang tidak setuju denganya. Filsafat kepustakawanan Driyarkara yang dipakai oleh Blasisus Sudarsono dalam mencari makna kepustakawanan. Driyarkara membedakan antara filsafat sebagai ilmu (yang tidak dibahas dalam tulisan ini), dan filsafat dalam arti yang lebih luas yaitu dalam arti: usaha mencari jawab atas berbagai pertanyaan hidup, menanyakan dan mempersoalkan segala sesuatu. Dikatakan pula bahwa filsafat adalah pernyataan/penjelmaan dari sesuatu yang hidup di dalam hati setiap orang. Maka walaupun tidak setiap orang dapat menjadi ahli filsafat, namun yang dibicarakan atau dipersoalkan dalam filsafat itu memang berarti bagi kita semua. Pustakawan adalah orang (manusia). Maka jika kita memakai kalimat Driyarkara dengan mengganti kata orang dengan kata pustakawan dan sedikit memodifikasikannya, maka akan diperloleh kalimat berikut: Filsafat kepustakawanan adalah pernyataan/penjelmaan dari sesuatu yang hidup di dalam hati setiap pustakawan. Maka walaupun tidak setiap pustakawan dapat menjadi ahli filsafat, namun yang dibicarakan atau dipersoalkan dalam filsafat kepustakawanan itu memang berarti bagi semua pustakawan.
Pemikiran Blasius Sudarsono di atas, dapat disimpulkan bahwa beliau menekankan pada aspek falsafah humanisme dengan filsafat Driyarkara yang di dalamnya lebih menfokuskan pada sisi kemanusianya, artinya pada diri seorang pustakawan harus terdapat keilmuan yang menjadi cikal-bakal bagi pustakawan itu sendiri untuk lebih mengenal hakikat pustakawan dengan menumbuh kembangkan kepustakawananya dikarenakan hal tersebut merupakan akar yang ada pada diri seorang yang menyatakan dirinya sebagai seorang pustakawan dengan tumbuh sifat kepustakawanan tersebut, diharapkan pustakawan dapat bekerja secara ideal dan profesional dalam melayani dan menyediakan informasi kepada pemustaka.
Pada pemikiran
Blasius sudarsono terdapat 4 pilar kepustakawanan dalam tulisan ini ditekankan
pada pustawakan sebagai panggilan hidup dan semangat hidup (spirit of life) keterkaitanya dengan filsafat driyarkara bahwa
dalam diri pustakawan terdapat ruh yang menggerakan seorang pustakawan untuk
tetap bersemangat walaupun tidak lagi aktif bekerja di perpustakaan, sebagai
contoh dari pemikir sendiri yaitu Bapak Blasius Sudarsono yang tetap eksis
menggaungkan hakikat kepustakawanan sampai sekarang. Hal ini menunjukan betapa
pentingnya benih
kepustakawanan itu harus disemai, dirawat, dipupuk, jika perlu juga dipangkas
rapi agar tumbuh subur berkembang dan berbuah sehingga akaan terus menerus menjadi sebuah landasan
diri bagi pustakawan.
Komentar
Posting Komentar